Hari
minggu kemarin adalah satu hari penuh dalam pencarian makna dalam sebuah
pengalaman yang kulakukan di rumah tempat kelahiranku di korleko. Pengalaman
adalah sesuatu yang paling berharga bagi setiap orang yang menjalaninya, karena
disetiap pengalaman terselip makna kehidupan. Kebiasaan orang tua yang menetap
di rumah berbeda dengan kebiasaan saya yang pergi kuliah menuntut ilmu dan
menetap dipacor tempat dimana aku menuntut ilmu. Merasakan jerih payah orang
tua dalam menjalani hidup untuk kesejahteraan keluarganya ternyata lumayan
sulit bagiku yang jarang membantu mereka mengerjakan aktivitas kesehariannya.
Pagi yang cerah dan indah ku awali dengan mengumpulkan batu apung di samping
rumahku untuk kemudian di potong-potong menjadi bagian kecil-kecil dan siap
untuk di masukkan dalam satu takaran karung beras untuk dijual seharga 3500
rupiah perkarungnya, dan ternyata akupun tidak begitu piawai dalam memotong
batu ini, padahal ini hal yang remeh, ya karna ini bukan kebiasaanku. Papuk
tuan (nenek) yang setia dengan batu-batu itu terlihat cekatan dalam
memotongnya, sesekali aku istirahat mengumpulkan batu yang berceceran ke tempat
pemotongan batu, akupun mencoba memotong batu menggantikan papuk tuan, tapi
tetap saja aku merasa kesulitan.
Pencarian
makna tidak cukup sampai disitu, rasa ingin mencicipi jerih payah orang tuapun
berlanjut sampai memetik buah tomat di bangket (ladang). Suasana terik sinar
mentari yang rasanya berada hampir diatas kepala begitu menyengat, wajar saja
karena aktivitas pemetikan tomat ini pada waktu panas matahari lagi
terik-teriknya yaitu jam 13.00 siang bakda zuhur langsung berangkat. Walaupun
ke ladang cuman berdua dengan ibu tapi aku tetap menikmati pekerjaan ini karena
dibalik pekerjaan ada pengalaman, dibalik pengalaman terselip pelajaran.
Sebelum memulai pemetikan tomat kami mengatur setrategi dulu dengan ibu. Ibu
yang berlaga seperti ‘ketua umum’ dalam organisasi ini memberikan tugas
kepadaku yaitu memetik tomat sedangkan dia memetik cabai. Kebetulan diladang
itu ditanam tomat dan cabai dan disela-sela tanaman itu ada beberapa tanaman
terong panjang dan kacang panjang. Akhirnya aktivitaspun segera dimulai. Pohon
tomat yang sudah enam kali dipanen itu terlihat sudah ‘tidak perawan’ lagi
karena pohonnya semuanya kering kerontang hanya terlihat buahnya saja yang
menyala-nyala dari kejauhan. Memasuki arena tanaman tomat itu kulitku langsung
terbakar oleh panas matahari tapi untung saja aku membawa sarung dari rumah
yang ku gunakan menutup kepala dan badanku agar tidak terbakar sinar matahari.
Penampilanku kali ini cukup lucu karna berbeda dengan pemetik tomat yang
lainnya. Karena merasa kepansan, akupun membuat seperti ninja dengan
menggunakan sarung itu dan akupun persis seperti berpakain ninja dengan sarung
itu. Lucu kan.. hee.
Setelah
lama beraktivitas di arena tomat akupun istirahat disebuah berugak dekat
pohon-pohon tomat itu. Haus dan dahaga menyerang kami berdua yang sudah lelah
mencari tomat dan cabai, akhirnya ibu memetik tebu untuk menjanggal kehausan
yang mendera kami berdua. Setelah lama beristirahat sambil menikmati tebu dan
keindahan pepohonan yang ada disana kamipun pulang membawa hasil tani itu.
Setibaku dirumah akupun merenung bahwa apa yang kulakukan saat itu tidak
seberat yang dilakukan kesehariannya ibu dan bapak dirumah.
Suasana
rumahku yang dulunya dua buah kios yang dibangun di dekat rumah itu masih
beroperasi dan dikunjngi banyak pembeli sekarang sudah tinggal cerita, semuanya
tertutup rapat dan tidak ada aktivitas jual beli seperti dulu lagi disana.
Perenungan itu menambah pemahamanku tentang makna kehidupan selama ini. Kupikir
dan semakin berpikir bahwa sumber keuangan yang menjadi biaya kuliahku selama
ini adalah bukan dengan cara yang mudah tetapi penuh dengna keringat demi
pendidikan anak-anak tersayang dari seorang ibu dan bapak.
Jika
ditilik lebih jauh, rata-rata keinginan orang tua menyekolahkan anaknya
diantaranya adalah agar mreka tau yang salah dan yang benar ; agar mereka bisa
mandiri dan jadi orang sukses dan kaya ; agar bisa mendoakan orang tuanya dan
sebagainya. Tak sedikit orang tua yang bertujuan menyekolahkan anaknya agar
mereka bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan yang banyak sehingga menjadi
orang kaya dan bisa merawat ibunya dihari senja kelak. Anggapan ini saya rasa
adalah pemahaman yang keliru ditataran orang tua. Pekerjaan dan kekayaan itu
adalah nomor dua setelah beribadah dengan baik kepada Alloh swt. Orang pintar
dan cerdas banyak, tapi pemahaman agama yang kering akan menjerumuskan kita
walaupun kita punya keahlian dan kecerdasan. Jika dikaitkan dengan persoalan
bangsa kita hari ini jelaslah bahwa orang-orang yang cerdas tapi lemah dalam
agama banyak melakukan penyelewengan diantaranya adalah korupsi, asusila,
ketidak adilan dan sebagainya. Masih ingatkah kita dengan kasus seorang jaksa
yang mulia yang disogok dengan penari telanjang ? ini sangatlah tidak masuk
akal tapi ya ya itulah realitas yang berkembang dinegara kita. Akar masalahnya
adalah persoalan sepiritualitas. Hati ini memang sangat perlu sekali kita jaga,
kecerdasan memang perlu tapi yang lebih perlu adalah keimanan yaitu memupuk
spiritualitas.
Mampu
merasakan perasaan orang tua adalah salah satu perkembangan emosi dan
sepititual yang baik. Pendidikan dari orang tua sangat penting bagi seorang
anak untuk mendapatkan moral dan akhlak yang mulia demi keberlangsungan hidup
anak dan keluarga. Jika hati sudah baik maka dengan sendirinya yang lain-lain
akan mengikuti hati. Masalah perkerjaan dan kekayaan akan datang dengan
sendirinya apabila hati ini sudah mampu diatur sebaik mungkin. Inilah makna
yang tersembunyi dari setiap pengalaman yang degeluti oleh setiap orang yang
mampu berfikir. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu berpikir dan mampu
menyingkap makna dari setiap pengalaman yang kita lalui. Akhirnya inilah akhir
dari tulisan yang menceritakan pengalamanku, apa pengalamanmu ?.
salam hangat dari saya..!






0 komentar:
Posting Komentar