Jumat, 29 Maret 2013

Pencarian Makna Dibalik Pengalaman


Hari minggu kemarin adalah satu hari penuh dalam pencarian makna dalam sebuah pengalaman yang kulakukan di rumah tempat kelahiranku di korleko. Pengalaman adalah sesuatu yang paling berharga bagi setiap orang yang menjalaninya, karena disetiap pengalaman terselip makna kehidupan. Kebiasaan orang tua yang menetap di rumah berbeda dengan kebiasaan saya yang pergi kuliah menuntut ilmu dan menetap dipacor tempat dimana aku menuntut ilmu. Merasakan jerih payah orang tua dalam menjalani hidup untuk kesejahteraan keluarganya ternyata lumayan sulit bagiku yang jarang membantu mereka mengerjakan aktivitas kesehariannya. Pagi yang cerah dan indah ku awali dengan mengumpulkan batu apung di samping rumahku untuk kemudian di potong-potong menjadi bagian kecil-kecil dan siap untuk di masukkan dalam satu takaran karung beras untuk dijual seharga 3500 rupiah perkarungnya, dan ternyata akupun tidak begitu piawai dalam memotong batu ini, padahal ini hal yang remeh, ya karna ini bukan kebiasaanku. Papuk tuan (nenek) yang setia dengan batu-batu itu terlihat cekatan dalam memotongnya, sesekali aku istirahat mengumpulkan batu yang berceceran ke tempat pemotongan batu, akupun mencoba memotong batu menggantikan papuk tuan, tapi tetap saja aku merasa kesulitan.


Pencarian makna tidak cukup sampai disitu, rasa ingin mencicipi jerih payah orang tuapun berlanjut sampai memetik buah tomat di bangket (ladang). Suasana terik sinar mentari yang rasanya berada hampir diatas kepala begitu menyengat, wajar saja karena aktivitas pemetikan tomat ini pada waktu panas matahari lagi terik-teriknya yaitu jam 13.00 siang bakda zuhur langsung berangkat. Walaupun ke ladang cuman berdua dengan ibu tapi aku tetap menikmati pekerjaan ini karena dibalik pekerjaan ada pengalaman, dibalik pengalaman terselip pelajaran. Sebelum memulai pemetikan tomat kami mengatur setrategi dulu dengan ibu. Ibu yang berlaga seperti ‘ketua umum’ dalam organisasi ini memberikan tugas kepadaku yaitu memetik tomat sedangkan dia memetik cabai. Kebetulan diladang itu ditanam tomat dan cabai dan disela-sela tanaman itu ada beberapa tanaman terong panjang dan kacang panjang. Akhirnya aktivitaspun segera dimulai. Pohon tomat yang sudah enam kali dipanen itu terlihat sudah ‘tidak perawan’ lagi karena pohonnya semuanya kering kerontang hanya terlihat buahnya saja yang menyala-nyala dari kejauhan. Memasuki arena tanaman tomat itu kulitku langsung terbakar oleh panas matahari tapi untung saja aku membawa sarung dari rumah yang ku gunakan menutup kepala dan badanku agar tidak terbakar sinar matahari. Penampilanku kali ini cukup lucu karna berbeda dengan pemetik tomat yang lainnya. Karena merasa kepansan, akupun membuat seperti ninja dengan menggunakan sarung itu dan akupun persis seperti berpakain ninja dengan sarung itu. Lucu kan.. hee.

Setelah lama beraktivitas di arena tomat akupun istirahat disebuah berugak dekat pohon-pohon tomat itu. Haus dan dahaga menyerang kami berdua yang sudah lelah mencari tomat dan cabai, akhirnya ibu memetik tebu untuk menjanggal kehausan yang mendera kami berdua. Setelah lama beristirahat sambil menikmati tebu dan keindahan pepohonan yang ada disana kamipun pulang membawa hasil tani itu. Setibaku dirumah akupun merenung bahwa apa yang kulakukan saat itu tidak seberat yang dilakukan kesehariannya ibu dan bapak dirumah.

Suasana rumahku yang dulunya dua buah kios yang dibangun di dekat rumah itu masih beroperasi dan dikunjngi banyak pembeli sekarang sudah tinggal cerita, semuanya tertutup rapat dan tidak ada aktivitas jual beli seperti dulu lagi disana. Perenungan itu menambah pemahamanku tentang makna kehidupan selama ini. Kupikir dan semakin berpikir bahwa sumber keuangan yang menjadi biaya kuliahku selama ini adalah bukan dengan cara yang mudah tetapi penuh dengna keringat demi pendidikan anak-anak tersayang dari seorang ibu dan bapak.

Jika ditilik lebih jauh, rata-rata keinginan orang tua menyekolahkan anaknya diantaranya adalah agar mreka tau yang salah dan yang benar ; agar mereka bisa mandiri dan jadi orang sukses dan kaya ; agar bisa mendoakan orang tuanya dan sebagainya. Tak sedikit orang tua yang bertujuan menyekolahkan anaknya agar mereka bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan yang banyak sehingga menjadi orang kaya dan bisa merawat ibunya dihari senja kelak. Anggapan ini saya rasa adalah pemahaman yang keliru ditataran orang tua. Pekerjaan dan kekayaan itu adalah nomor dua setelah beribadah dengan baik kepada Alloh swt. Orang pintar dan cerdas banyak, tapi pemahaman agama yang kering akan menjerumuskan kita walaupun kita punya keahlian dan kecerdasan. Jika dikaitkan dengan persoalan bangsa kita hari ini jelaslah bahwa orang-orang yang cerdas tapi lemah dalam agama banyak melakukan penyelewengan diantaranya adalah korupsi, asusila, ketidak adilan dan sebagainya. Masih ingatkah kita dengan kasus seorang jaksa yang mulia yang disogok dengan penari telanjang ? ini sangatlah tidak masuk akal tapi ya ya itulah realitas yang berkembang dinegara kita. Akar masalahnya adalah persoalan sepiritualitas. Hati ini memang sangat perlu sekali kita jaga, kecerdasan memang perlu tapi yang lebih perlu adalah keimanan yaitu memupuk spiritualitas.

Mampu merasakan perasaan orang tua adalah salah satu perkembangan emosi dan sepititual yang baik. Pendidikan dari orang tua sangat penting bagi seorang anak untuk mendapatkan moral dan akhlak yang mulia demi keberlangsungan hidup anak dan keluarga. Jika hati sudah baik maka dengan sendirinya yang lain-lain akan mengikuti hati. Masalah perkerjaan dan kekayaan akan datang dengan sendirinya apabila hati ini sudah mampu diatur sebaik mungkin. Inilah makna yang tersembunyi dari setiap pengalaman yang degeluti oleh setiap orang yang mampu berfikir. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu berpikir dan mampu menyingkap makna dari setiap pengalaman yang kita lalui. Akhirnya inilah akhir dari tulisan yang menceritakan pengalamanku, apa pengalamanmu ?.

 salam hangat dari saya..!

0 komentar:

Posting Komentar